Mengharap Karunia Anak
Mengharap Karunia Anak
bang AsriDia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. (AQ. Asy Syûrâ’: 49-50)
Ya Allâh, banyakanlah harta dan anaknya. Berilah keberkahan pada apa yang Engkau telah berikan untuknya.
(Doa Nabi untuk ‘Anas bin Mâlik; Bukhâriy, no. 6334)
Konon keinginan memiliki anak telah ada sejak masa kanak-kanak. Hal ini ditunjukkan ketika anak-anak bermain dengan boneka-bonekanya. Sebagian besar manusia, setelah mereka tiba pada peranan akhir dari kehidupannya, sadar bahwa kepuasan yang paling nikmat datang dari berhasilnya mereka menurunkan anak cucu yang baik, dan kegembiraan yang paling besar bagi mereka ialah mengunjugi anak-cucunya.
Keinginan memiliki anak bagi pasutri yang telah lama menikah, namun belum memiliki anak nampaknya akan semakin menguat. Zakariyyâ yang telah tua, beruban, dan istri mandul, masih terus menyambung asa dan mendaraskan doa untuk dikaruniakan anak. “Ya Rabbku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Rabbku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku [orang-orang yang akan mengendalikan dan melanjutkan urusanku] sepeninggalku, sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putra, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qûb; dan jadikanlah ia, ya Rabbku, seorang yang diridai”. (Maryam: 4-6). Doa Zakariyyâ yang penuh harap akhirnya dikabul. Hai Zakariyyâ, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahyâ, yang sebelumnya kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan Dia. (Maryam: 8).
Saat berdoa meminta karunia anak disertakan permintaan agar anak tersebut kelak menjadi anak salih. Begitulah yang dilakukan Zakariyyâ, dan jadikanlah ia, ya Rabbku, seorang yang diridai”. Dan yang dicon-tohkan bapak para nabi, ‘Ibrâhîm, ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang salih. (Ash Shâffât: 100).
Berdoa Sebelum HSI
Alquran menyifati Iblis sebagai aduww mubîn, musuh yang nyata. Dan Allâh memerintahkan,anggaplah ia musuh(mu). (Fâthir: 6). Sumpah Iblis adalah pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka. (Al Hijr: 39-40). Upaya setan untuk memperdaya manusia dimulai dari sebelum janin membentuk wujud. Yaitu saat suami-istri berhubungan kelamin. Untuk menghindari gangguan setan, Islam mengajarkan meminta perlindungan bagi calon anak dari setan sebelum hubungan suami-istri (HSI).
«اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ، وَجَنِّبْ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا»
(Allâhumma jannibnasy-syaythân, wa jannibisy-syaythâ mâ razaqtanâ)
Ya Allâh, jauhilah kami dari setan, dan jauhi setan dari apa yang Engkau karuniakan kepada kami.(Bukhari, no. 141)
Kalau seandainya dari HSI itu dikaruniai anak, setan tidak akan mencelakakan anaknya, begitulah Nabi menjanjikan. (Bukhâriy, no. 141)

